POTRET PERKOPERASIAN INDONESIA

(photo by : dayanaika 2015)

Koperasi di Indonesia didefinisikan sebagai badan usaha dengan beranggotakan orang-seorang atau badan hukum yang melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip-prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat berdasar atas asas kekeluargaan. Menciptakan kesejahteraan untuk anggotanya adalah tujuan utama koperasi.

Koperasi pertama kali dicetuskan oleh Patih R.Aria Wiria Atmaja di Purwokerto. Pada saat itu, Ia mendirikan sebuah Bank untuk para Pegawai Negeri ( priyayi ). Sekitar abad ke-20 gerakan koperasi pertama kali tumbuh dari kalangan rakyat, karena pada waktu itu penderitaan dalam lapangan ekonomi dan sosial yang di timbulkan oleh sistem kapitalisme yang begitu memuncaknya. Sehingga mendorong beberapa orang yang perekonomiannya terbatas, dengan penderitaan perekonomian yang sama, untuk bersatu demi menolong dirinya sendiri dan orang lain yang sama penderitaannya.

Pada tanggal 12 Juli 1947 Koperasi Indonesia di dirikan, penggagasnya adalah Bung Hatta. Yang kmudian kita knal sebagai Bapak koperasi Indonesia. Kongres Koperasi yang pertama diselenggarakan di Tasikmalaya dengan ditetapkan berdirinya SOKRI (Sentral Organisasi Koperasi Seluruh Indonesia) dan Kongres Kedua di Bandung pada tahun 1953 berubah nama menjadi Dekopin. Semenjak itulah tanggal 12 Juli ditetapkan sebagai Hari Koperasi Indonesia, yang kemudian diperingati setiap tahunnya hingga saat ini.

Menurut undang-undang no 25 tahun 1992 tentang perkoperasian, fungsi dan peran koperasi di Indonesia yaitu sebagai berikut :

1. Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya.

2. Berperan serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas dan kehidupan manusia dan masyarakat.

3. Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko gurunya.

4. Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional yang merupakan usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.

Sesuai dengan dengan penjelasan di atas bahwa koperasi merupakan soko guru atau tulang punggung perekenomian Indonesia. Hal ini bukan tanpa alasan karena koperasi sesuai dengan pengertian kopersi yangtelah disebutkan di muka bahwa koperasi merupakan gerakan ekonomi kerakyatan yang berdasarkan asas kekeluargaan. Di mana asas kekeluargaan ini sudah mendarah daging dalam setap jengkal kehidupan bangsa Indonesia sejak dahulu dan diwariskan secara turun-temurun hingga saat ini. Lalu bagaimana realita tentang perkoperasian di Indonesia sekarang ini. Data dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah(UKM) tahun 2016 menyebutkan kontribusi koperasi secara kelembagaanterhadap PDB (Produk Domestik Bruto) hanya 4,41 % meskipun terdapat kenaikan dari tahun sebelumnya yang hanya 1,7%. Namun tetap saja angka 4 persen bukan merupakan angka yang menggembirakan, mengingat bahwa koperasi dicita-citakan merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Namun kontribusinya terhadap PDB sangat kecil. Mari kita bandingkan dengan koperasi negara-negara lain di dunia. Data dari International Co-operative Alliance (ICA) menyebutkan kontribusi koperasi di Kenya menyumbang 45% terhadap PDB, di Selandia Baru koperasi menyumbang 22% terhadap PDB, di Swiss koperasi menguasai perdagangan retail sebesar 90%, di Kolumbia koperasi menguasai jasa kesehatan sebesar 66% , di Swedia koperasi menguasai perdagangan retail sebesar 24%, di Amerika Serikat koperasi menguasai jasa listrik sebesar 13%, dan di Singapura koperasi menguasai perdagangan retail sebesar 68%.. Itu merupakan sebagaian kecil bagaimana koperasi justru mampu berkembang dengan pesat dan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perekonomian di negara lain. Lalu apa yang terjadi dengan Indonesia, kenapa koperasi indonesia kesulitan berkembang. Data dari Kementerian Koperasi dan UKM menyebutkan dari 200.000 lebih jumlah koperasi yang ada, ada sekitar 62.000 koperasi yang tidak aktif dan sudah dikeluarkan dari database. Sebuah ironi di negara yang menginginkan kemandirian ekonomi melalui ekonomi kerakyatan, justru koperasi tidak mampu bersaing dan tergerus oleh perusahaan-perusahaan multinasional dengan modal tanpa batas. Padahal tingkat keterserapan tenaga kerja oleh koperasi lebih tinggi 20 % dari pada perusahaan multi nasional. Masih menurut ICA keterserapan tenaga kerja oleh koperasi di dunia sebesar 100 juta sedangkan oleh perusahaan multinasional sebesar 80 juta.

Bukan tanpa sebab koperasi di Indonesia kesulitan berkembang, mulai dari kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pentinggnya koperasi dan stigma yang masih bertahan di masyarakat tentang image koperasi sebagai ekonomi kelas dua, rendahnya kualitas sumber daya manusia dan kemampuan manajemen yang tidak profesional pada kopersi-koperasi di Indonesia, sampai pada pemerintah yang terkesan memanjakan koperasi seperti bantuan dana segar tanpa pengawasan sampai sifat bantuan yang tidak wajib dikembalikan, menjadi beberapa kendala yang harus dihadapi dunia perkoperasian di Indonesia.

Untuk itu sudah seyogyanya masalah perkoperasian menjadi masalah bersama. Perlu kerja sama semua pihak, masyarakat sebagai pelaku ekonomi, para pegiat koperasi yng tahu betul seluk-beluk koperasi dan tidak lupa pemerintah sebagai pemangku kebijakan. Indonesia harus mampu berdikari (red: berdiri diatas kaki sendiri) di bidang ekonomi melalui ekonomi kerakyatan dengan koperasi sebagai urat nadi perekonomian.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *