Budaya Konsumsi Masyarakat Indonesia

Budaya konsumsi masyarakat Indonesia saat memasuki bulan suci Ramadhan dan Lebaran cenderung mengalami peningkatan drastis. Adapun harga-harga yang mengalami kenaikan harga selama bulan Ramadhan adalah seperti harga beras, biskuit, sirup, dan harga sembako. Sejalan dengan itu, kelangkaan pasokan kebutuhan pokok juga kerap terjadi, sehingga membuat harga-harga melonjak.Menurut Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Abdullah Mansuri, budaya konsumsi yang cenderung naik tersebut karena kekhawatiran masyarakat terhadap harga kebutuhan pokok yang selalu naik saat jelang Ramadhan dan Lebaran.

Ini tentu aneh, karena selama bulan Ramadhan masyarakat biasanya mengurangi pola konsumsinya karena aktivitas puasa di siang hari. Sehingga dengan adanya aktivitas tersebut, secara logika tingkat konsumsi dan belanja barang (terutama bahan makanan) menjadi turun. Jika pun ada yang berdalih bahwa bahan makanan “ditumpuk” untuk berbuka puasa, ini pun aneh untuk aktivitas Ramadhan, karena bagaimanapun QS Al A’raf:31 mengajarkan umat untuk tidak berlebihan saat makan, apalagi di bulan Ramadhan. Penyebab naiknya harga-harga pada Bulan Ramadhan ini juga dianalisis oleh Prof. Didik J. Rachbini. Beliau adalah dosen dan politikus DPR RI. Dalam penelitiannya mengenai naiknya harga-harga, beliau kemudian memformulasikan adanya paradoks Ramadhan. Prof. Didik menengarai bahwa paradoks Ramadhan muncul akibat adanya peningkatan konsumsi kolektif di tengah masyarakat, mulai dari buka puasa bersama, sahur bersama, atau ritual sosial lainnya yang pada akhirnya mendorong peningkatan konsumsi. Peningkatan konsumsi akan menyebabkan inflasi.

Bisa dikatakan bahwa inflasi di Bulan Ramadhan ini disebabkan karena adanya kenaikan permintaan. Permintaan tersebut meningkat karena masyarakat Indonesia mempunyai daya beli, terutama saat Ramadhan dimana pendapatan lebih banyak diperoleh masyarakat Indonesia.Kebiasaan lama yang dilakukan oleh sebagian umat Islam di Indonesia memperoleh pendapatan lebih besar menjelang hari raya. Kenaikan pendapatan tersebut akan menyebabkan daya beli masyarakat menjadi semakin meningkat. Masyarakat akan lebih banyak melakukan aktivitas pembelanjaan (pengeluaran) untuk sejumlah kebutuhan di bulan suci Ramadhan dan hari raya. Misalnya, seperti pembelanjaan kebutuhan pokok, makanan jadi, pakaian, aksesoris, perhiasan, transportasi, dan pembelanjaan lain-lain yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan pribadi. Kebiasaan semacam ini sudah menjadi gaya hidup konsumerisme pada umumnya umat Islam di Indonesia.

Inflasi di bulan suci Ramadhan dan Lebaran disebut fenomena perekonomian. Disebut fenomena, karena lonjakan inflasi tidak selalu terjadi di setiap bulannya, melainkan hanya terjadi menjelang bulan suci Ramadhan dan Lebaran. Lonjakan inflasi bukan bersumber dari pasokan barang-barang kebutuhan pokok, melainkan didorong oleh semakin tingginya ekspektasi atas tingkat kesejahteraan. Di sisi permintaan, masyarakat akan menghabiskan sebagian besar pendapatannya (termasuk THR) di bulan suci Ramadhan dan Lebaran. Sementara itu, di sisi penawaran, pihak produsen atau penjual akan mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dengan memanfaatkan kenaikan sementara dari tingkat kesejahteraan masyarakat.

Pemerintah di negara manapun memiliki kewajiban utama untuk melakukan stabilisasi harga. Maksudnya stabilisasi dilakukan apabila ditemukan ketidakwajaran di luar perilaku harga pada kondisi normal. Untuk kasus di Indonesia, persoalan stabilisasi harga di masa bulan suci Ramadhan dan Lebaran bukanlah persoalan yang sederhana, karena sumber masalahnya berakar dari kebijakan dan sikap pemerintah di masa lalu. Kebijakan perekonomian dalam berorientasi pada pertumbuhan lebih menitikberatkan atau berorientasi untuk mendorong sisi permintaan, sehingga semakin membentuk gaya hidup yang cenderung konsumtif di masyarakat. Hal ini masih ditambahkan dengan gaya hidup pejabat dan keluarganya yang konsumtif menjadi contoh bagi masyarakat. Mengenai pengendalian dan stabilisasi harga sejak lama lebih berpihak kepada sisi permintaan, bukan memperhatikan sisi penawaran. Sekalipun demikian, dengan segala kewenangan yang dimilikinya, pemerintah seharusnya punya otorisasi penuh untuk mengendalikan harga dari ketidakwajaran dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Tapi dengan pola yang seperti ini, Ramadhan menjadi terdistorsi maknaya. Puasa seyogyanya dimaknai sebagai upaya untuk menahan aneka keinginan pada diri, termasuk diantaranya : berlebihan dalam mengkonsumsi sesuatu. Tegas dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa berlebihan akan menyeret kita pada kemubaziran, dan hal tersebut akan menjadikan kita berkawan dengan syaitan. Bentuk-bentuk “berlebihan” tersebut misalnya adalah munculnya menu-menu yang tidak wajar, atau jumlah makanan yang “di luar normal” hingga pada akhirnya banyak yang terbuang dan mubazir. Benar ini mungkin bagian dari respek kita terhadap bulan suci, tapi rasanya tidak elok jika dilakukan dengan cara seperti ini.

 

Direktorat Kajian dan Aksi Strategis
Kementerian Sosial dan Politik
BEM FEB UNSOED 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *